Thursday, March 12, 2009

Pindahan lagi :)

Karena saya ternyata lebih suka fitur wordpress dibandingkan blogger, pindahan ahhh ke:
http://theclassicaltunes.wordpress.com/

Saturday, September 13, 2008

Persepsi dan Praduga

Ini bukan judul novel Jane Austeen yang terbaru. Tapi karena saya capai dengan praduga dan persepsi tak berdasar terhadap musik klasik.
Walaupun balik lagi, untuk apa sih saya bela-belain aliran musik, hanya karena ia sudah mengiringi hidup saya sejak umur saya masih 1 digit ?

Ini dia persepsi dan praduga tentang musik klasik - dan perlu untuk diklarifikasi:

1. Musik klasik hanya untuk kalangan atas/bangsawan

2. Musik klasik kesannya mahal

3. Musik klasik bukan untuk orang muda (ini saya sudah mulai sangat tersinggung biasanya)

4. Musik klasik bisa bikin tidur

dst dst ....

Dan entah kenapa, ada saja yang berusaha mendiskreditkan musik klasik dengan alasan-alasan diatas. Entah apa alasannya, apa itu sebagai wujud kepedulian mereka pada kemiskinan - bagi yang mengklaim poin no 1 dan 2 (oh, munafik sekali kalau begitu) hingga memang orang yang berwawasan dangkal (no 1 hingga 3) . Dan untuk point 4 biasanya saya gak komentar, karena itu sudah masalah selera.

Selagi ada persepsi tertanam seperti itu dalam masyarakat (Indonesia) semakin sulit pula lah perkembangan musik klasik di Indonesia - selamanya kita (klasik) menjadi minoritas dan representasi asing.

Saturday, August 16, 2008

Ludwig Van Beethoven: The 9 Symphonies


Ini adalah set combo Beethoven + Karajan + Berliner saya yang kedua. Yang pertama adalah CD set untuk keseluruhan simfoni Beethoven, sedangkan yang terakhir saya miliki adalah set DVD penampilan Karajan dan Berliner Philharmoniker dalam rangka memperingati ulang tahun Herbert Von Karajan yang ke 100. Kesembilan penampilan tersebut dipilih dari berbagai macam penampilan Karajan yang dianggap terbaik, baik secara penampilan, vitalitas hingga lokasi pertunjukan: Berlin Philharmonic Hall dan The Musikverein di Vienna.

Seperti biasa, saya selalu memulai Symphony Beethoven dimulai dari yang ke 9, lalu no 7, 5, 6 dan 3. Saya memulai berdasarkan favorit, dan kemudian di lain hari mendengarkan sisanya: 1,2,4 dan 8. Sayangnya untuk koleksi DVD gres saya ini, saya baru mendengarkan/menonton 2 simfoni, yang pertama adalah Symphony no 9th yang memakan waktu lebih dari 1 jam dan Symphony no.7th yang hanya setengah jam. Karenanya saya ingin sekali bercerita tentang pengalaman saya mendengarkan dan menonton kesembilannya.

Symphony no. 9 in D Minor Op.125: Apa lagi yang bisa diceritakan dari simfoni ini ? Ini adalah versi Karajan yang ke 3 yang saya miliki, dan entah versi yang keberapa setelah Haitink, Bernstein, van Waart, dll.
Mendengarkan keseluruhan Symphony no. 9 selalu membuat saya bersyukur, bahwa saya berkesempatan untuk mendengarkan keindahan dan keajaiban musik.
Dibandingkan dengan versi DVD lain Symphony 9th yang saya miliki (1977), kali ini di bagian pertama terasa lebih intense.Namun untuk bagian keempat, saya lebih menyukai performance Karajan+Berliner di tahun 1977.

Symphony no. 7 in A Major: Karya ringan tanpa nama alias merupakan salah satu selingan yang menyenangkan - dan sesuai dengan harapan saya, bagian pertama membuat saya ingin menari (atau setidaknya mengetukan kaki), dan berubah menjadi intens dibagian kedua, dan diakhiri dengan iringan ala angin ribut dibagian keempat.

Hingga hari ini, saya belum sempat menonton sisanya. Tapi yang jelas dengan hanya Rp 90.000 saja, saya merasa sangat puas mendapatkan 3DVD kualitas prima dengan duo maut memainkan 9 Simfoni Beethoven secara lengkap.
Yang saya review akhirnya adalah kualitas suara dan gambar yang jernih. Tentu saja saya tidak pada kapasitas untuk mereview kesembilan simfoni Beethoven karena saya hanyalah pendengar.

DVD Set ini dirilis oleh Sony BMG, 2007.

Brahms: Symphony no.1 in C minor, Op.68


Simfoni Brahms yang pertama ini adalah salah satu kesukaan saya - dan tentu saja agak luar biasa secara pribadi, karena tak jarang komposisi Brahms menjadi pengantar tidur.
Apa kelebihannya - selain panjangnya hampir menyamai Mahler:Symphony no.9 ? Atau fakta bahwa Brahms memerlukan waktu 14 tahun untuk menyelesaikan simfoni ini, sambil dibayang-bayangi kebesaran Beethoven ? Atau sebutan untuk simfoni ini yaitu Beethoven: Symphony no.10 ?Memang dapat terdengar pengaruh simfoni Beethoven yang cukup kuat, terutama dari no. 5 dan 9.
Atau juga karena simfoni ini juga kerap disebut sebagai salah satu simfoni terbaik sepanjang masa ?
Namun bagi saya pribadi, simfoni ini begitu spesial karena sarat dengan permainan emosi dengan klimaks pada bagian keempat.

Menurut pendengaran dan persepsi pribadi, nada-nada yang dramatis, pedih dan seakan menceritakan kepahitan hidup (Un Poco Sostenuto - Allegro) - yang kemudian muncul secercah harapan pada bagian kedua (Andante Sostenuto) dengan memberi banyak unsur tiup. Dan alunan musik semakin ringan dan semakin berwarna pada bagian ketiga sesuai dengan temponya: Un Poco Allegretto e grazioso. Sedangkan bagian keempat kembali mencekam, sebelum berujung pada 'kemenangan' dan 'pembebasan' serta 'kemegahan' pada akhir bagian keempat (Adagio - Allegro non troppo). Perhatikan 1-2 menit sebelum berakhir yang bagai bunyi derap kuda yang kemudian memasuki kemegahan gerbang istana - seakan seperti pahlawan perang yang disambut sepanjang jalan hingga bertemu sang raja.

Seperti biasa, ini bukanlah Brahms: Symphony no.1 pertama yang saya punya, melainkan koleksi ketiga. Namun apa yang membuat koleksi satu ini cukup unik - adalah fakta bahwa simfoni ini dijendrali oleh salah satu konduktor wanita sepanjang masa: Marin Alsop, yang bermain bersama salah satu orchestra terbesar: London Philharmonic Orchestra.

Ditengah-tengah dunia musik klasik, yang secara tradisi dikuasai oleh pria, maka Marin Alsop dapat dikatakan sebagai anomali, seorang violinist dan konduktor pada saat bersamaan. Dan tentunya Brahms hasil besutannya terasa berbeda dengan 2 Brahms lain yang saya miliki - terasa lebih intens dengan tempo yang lebih cepat.

Yang terpenting buat saya, selagi bagian awal movement pertama dan bagian terakhir movement 4 mampu memberikan sensasi mendalam dan perasaan tercekat, maka hal itu sudahlah cukup. Konduktor wanita dan London Phil hanyalah nilai tambahan.

Wednesday, May 21, 2008

NSO Concert, May 24, 2008

Too bad, I have other plan on May 24th.
I'm not very fascinated with Nusantara Symphony since I had a bad experience with one of their concert: Beethoven' Symphony 9th. They were so proud by proclaiming the first Beethoven 9th ever played in Indonesia. If you're the first, you better make sure you're able to play it right and please pick a proper concert hall.
I was left with full disappointment , from the choir to the playing, sighhh ...

The latest concert will be held at Balai Sarbini, so I guessed it's definitely all right not to attend their performance.
But I really wish they can play Beethoven 5th well !

The second piece will be Carmen by Bizet. One of my Pakistani friend love this song. For me, she is the Carmen :) She just exactly Carmen portrayal, curvy long black hair, slender figure, exotic face and sparkling eyes :) She's fierce and funny at the same time.

Wish you luck then, NSO :)

Thursday, May 1, 2008

Rachmaninoff - Piano Concerto no 2: On the Verge of Sanity


Pernahkah mendengarkan suatu komposisi, hingga tanpa terasa air mata mengalir sendirinya diakhir komposisi? Keajaiban musik, begitu saya menyebutnya, salah satunya dialami kala saya pertama kali menonton langsung pertunjukan komposisi Piano Concerto no.2 dari Rachmaninoff.

Kala itu tahun 2003, saya begitu ingin menonton pertunjukan apapun di Opera House yang hanya selemparan batu dari kantor. Dan saat itu kebetulan Sydney Symphony akan menampilkan repertoire dari Eropa Timur: Rachmaninoff dan Rimsky Korsakov. Yang satu Piano Concerto no.2 dan satu lagi Scherherazade. Keduanya sudah saya dengar melalui CD, namun baru kali berkesempatan menonton langsung.

Untungnya, saya masih dibawah usia 26 tahun saat itu, sehingga saya mendapat diskon yang cukup besar ketika membeli tiket. Saat itu saya mendapat tempat yang sangat bagus, lima baris dari depan, dan berhadapan langsung dengan sang pianis (sampai sekarang saya lupa namanya, tapi konon dia adalah grand pupil nya Rachmaninoff).

Sepanjang 3 movements Piano Concerto itu saya duduk, tercengan, terpana sehingga tak sadar air mata mengalir. Alunan piano nya terdengar liar, merana , gelisah sekaligus romantis. Dibuka dengan dentuman perlahan dan berat seperti layaknya bunyi dan mencekam. Alurnya demikian tersusun hingga klimaks di pertengahan movement pertama. Jantung saya pun turut berdetak seirama dengan dentingan piano.

Sedangkan movement kedua bagaikan jeda yang sunyi dibandingkan movement sebelumnya yang emosional. Alunannya terdengar romantis, puitis dan menghanyutkan. Alunan piano bersahutan bergantian dengan flute dan gesekan biola, sampai tiba-tiba movement kedua tersebut diakhir mendadak oleh cadenza piano.

Movement ketiga dibuka dengan derapan cadenza piano yang mengingatkan saya pada derap kuda. Sama seperti halnya bagian pertama, movement ini tak kalah emosional. Plot demi plot, klimaks demi klimaks tersusun dan terjadi secara tiba-tiba, semuanya tersusun berkat cadenza piano yang brilyan. Terpana pula dengan perpindahan dan permainan kesepuluh jari diatas tuts piano yang terlihat sangat jelas dari kursi saya. Dan sampai akhir, sampai emosi pun tertumpah, bersamaan dengan saya yang menahan nafas mendengar cadenza terakhir.

Mungkin inilah perbedaan antara mendengar dengan mendengar + melihat + merasakan pada saat bersamaan. Selanjutnya saya tidak pernah merasakan efek seperti ini, walaupun saya sudah mendengarkan dan memiliki berbagai macam versi Karajan, versi Horowitz, pianis oleh Jeno Jando hingga rekaman asli dari Rachmaninoff di Carnegie Hall. Seluruh versi itu memiliki cerita sendiri, dan kalau didengarkan secara seksama, akan tahu versi siapakah ini.

Piano Concerto ini memang seakan pembuktian Rachmaninoff , setelah dia mampu melewati batas, batas antara kegilaan dan kewarasan.

Sunday, April 27, 2008

Dynamic Duo: Rhapsody in Blue



Herbie Hancock VS Lang Lang (50th Grammy Award 2008 - 10 Februari 2008)

Salah satu permainan luar biasa dalam event Grammy 2008 adalah duet unik Herbie Hancock dan LangLang. Herbie Hancock yang kemudian menang di kategori Album of The Year berkolaborasi dengan LangLang, pianis muda dari China yang sedang melejit.

Keduanya berasal dari latar belakang dan generasi berbeda, LangLang yang pertama kali tertarik dengan piano ketika mendengarkan instrumen piano dimainkan dalam film kartun Tom&Jerry dan Herbie Hancock yang pada umur belasan bermain Mozart' Piano Concerto dengan Chicago Symphony.

Keduanya memainkan komposisi Rhapsody in Blue dalam double grand piano lengkap dengan jazz orchestra nya. Keduanya seperti berasal dari kutub yang berbeda, LangLang dengan setelan jas putihnya bermain demikian aktraktif dan 'liar' diluar kebiasaan seorang pianis klasik sedangkan Herbie Hancock dalam setelan hitamnya bermain dengan tenang seperti layaknya maestro yang sudah puluhan tahun menjelajahi dunia musik.
Keduanya seperti bersahutan dalam dialog musikal, tak hanya antar keduanya namun dengan seluruh anggota orkestra, entah itu clarinet ataupun trompet.

Memang yang menarik dari komposisi ini adalah perubahan kunci yang kerap terjadi, bersamaan juga dengan perubahan mood lagu. Bagi saya yang akrab dengan lagu ini berkat Woody Allen, Zubin Mehta dan film Manhattan, saya merasakan pengalaman cinematik dan perjalanan sepanjang menikmati lagu ini. Berbagai macam imajinasi mampu muncul dengan liarnya ditiap permainan, entah itu double piano, komposisi dengan musik tiup atau orkestrasi standard.

Kebetulan komposisi ini digubah menjadi singkat, dengan hanya menampilkan bagian-bagian penting, seperti intro, 'train' movemement hingga symphonic movement. 'Train' movement dimainkan oleh keduanya dalam dinamika yang luar biasa dan demikian ekspresif. Sedangkan seperti biasa symphonic menjelang akhir begitu menghayutkan, tak hanya bergantung pada strings, tapi bisa juga pada alat tiup dan piano.

Adalah salah satu kebahagian tersendiri dapat menyaksikan siaran langsung komposisi tersebut dan kemudian saya unduh dan ulang berkali-kali (sebelum youtube dll menghapus video tersebut dari server mereka, karena masalah hak cipta). Apalagi ketika memasuki bagian tengah yang menghanyutkan dengan latar belakang foto Gershwin, seakan Gershwin sedang termenung menyaksikan masterpiece nya dimainkan oleh 2 pianis luar biasa.

6 menit berlalu, pertunjukan tersebut diakhiri oleh standing ovation cukup lama, melebihi seluruh performance malam itu! Sangat menakjubkan ketika seluruh insan musik disitu (pop, rock, country hingga rap) berdiri untuk menghormati The Greatest US Masterpiece dan 2 pianis beda generasi.

Cuplikan video bisa disaksikan di situs redlasso.